Saturday, December 10, 2011

Eps 4 - KOREA - Romantic & Cozy


Perjalanan di hari ketiga disambut dengan hujan gerimis di Seoul. Hari ini saya dan teman-teman akan mengunjungi suatu tempat yang pernah digunakan sebagai lokasi syuting Beethoven Virus dan Winter Sonata. Keduanya letaknya lumayan jauh dari Seoul sehingga selama perjalanan kami pada tidur semua, ditambah lagi cuaca mendung di luar yang memang membuat kami semakin mengantuk. Rute lengkap hari ini adalah: Petite France, Nami Island, Hongik University, Dongdaemun area. Kalau boleh saya beri tema, tempat-tempat yang saya kunjungi hari ini adalah tempat-tempat yang romantis dan tempat nongkrong yang cozy.

Petite France 
Perancis di Korea ;D
Letaknya di provinsi GyeongGi (GyeongGi-Do) sekitar 2 jam dari Seoul. Sesuai namany Petite France ini adalah suatu daerah yang dibangun dengan tema Perancis, jadi semua bangunan di sana berdesain seperti bangunan di Perancis, termasuk juga taman-taman yang ada. Kata Petit kalau dalam bahasa Perancis berarti Kecil dan indah. Begitu memasuki kawasan Petite France, dimanapun kita berada akan serasa berada di luar Korea, serasa berada di Perancis, bahkan lagu yang di setel saja lagu Perancis. Petite France adalah sebuah kawasan yang dibangun khusus dengan desain dengan tema Perancis untuk memperkenalkan budaya Perancis. Penggemar K-drama Beethoven Virus pasti tidak asing dengan tempat ini, karena tempat syuting drama ini berlokasi di sini. Oleh karena itu, ada satu rumah khusus yang memajang tanda tangan para pemeran di Beethoven Virus.
Pemandangan di tempat ini sangat indah, foto di mana saja di sana dijamin hasilnya akan bagus dan serasa di Perancis. Sayang pada waktu saya ke sana cuaca sedikit tidak mendukung, gerimis dan suhu cukup dingin.


Nami Island.








Bagi saya sangat sulit untuk melukiskan keindahan Nami Island, karena hampir di setiap sudut pulau ini memiliki panorama yang luar biasa indah, tidak hanya di musim gugur tapi saya yakin di setiap musim pulau ini tetap terlihat indah. Untuk mencapai pulau Nami atau Naminara republic, kita harus menaiki ferry sekitar kurang lebih 10-15 menit. Ferry yang menyeberangkan pengunjung ke pulau Nami terlihat menarik, karena di sekililing kapal ferry ini dipasang bendera berbagai negara, termasuk bendera Merah putih turut berkibar di kapal ferry ini. Sebenarnya ada cara lain yang lebih ekstrim untuk menyeberang ke Pulau Nami. Tapi cara ini hanya diperuntukan bagi mereka yang punya nyali besar dan ingin memicu adrenalinnya. Cara yang kedua adalah dengan flying fox yang jaraknya cukup panjang dan cukup tinggi..hiiiii..saya sendiri tidak tertarik pakai cara ini. boro-boro dah, gak kebayang gimana rasanya di atas sana, sudah tingginya minta ampun, jaraknya juga lumayan, dan suhu saat itu dingin sekali, saking dinginnya, napas kita akan terlihat seperti asap setiap kali kita berbicara. Katanya sih kalau sudah seperti itu suhunya berarti udah sekitar 5 derajat Celcius. Kalau di permukaan saja suhunya segitu apalagi di atas. Saya sih tidak sempat mengecek ketinggian flying fox itu tapi sejauh mata memandang yang pasti ketinggiannya melebihi 80 m dari daratan.

Flying fox station


Ada hal yang menarik di pelabuhan penyeberangan ferry ini. Selain terpasang bendera beberapa negara, desainnya sangat bagus, seolah-olah menjadi pintu gerbang memasuki suatu negara baru yang mereka sebut Naminara Republic yang berdesain mirip gerbang-gerbang di taman bertema oriental, lengkap dengan immigration checkingnya..wkwkkwkw.. saya dan teman-teman sampai tertipu di sini, karena mbak CK bilang kalau kita diminta menunjukkan paspor sebelum menaiki ferry. Kita sih percaya-percaya saja, pertama karena yang bilang mbak CK, kedua karena memang di sana sendiri ada tulisan immigrationnya jadi kita percayaa...eh giliran semua udah berbaris rapi menunggu kapal ferry datang, kita heran kenapa tidak ada petugasnya ya, akhirnya salah satu dari kita bertanya ke miss Bo, guide kita, checking paspor-nya kapan ya? soalnya rawan nih ngeluarin paspor sambil di pegang tangan begini. Kontan saja miss Bo ketawa waktu kita menanyakan itu, katanya oh you dont need to show your pasport, Nami is still Korea. They write that thing for joking..hahhahaha...haisss..beneran kena semua nih kita-kita, mbak CK cuma ketawa-ketawa aja di belakang.


KOREA~ nature, beauty & lifestyle - Eps 3

Perjalanan hari kedua dimulai lebih awal, karena hari ini kita akan keluar kota Seoul. Rencana awal di hari kedua ini kita akan mengunjungi Petite France dan Nami Island, tapi karena menurut prakiraan cuaca hari ini akan hujan di daerah sana, mau gak mau kita harus ganti rute. Di Korea pada musim gugur yang cuacanya ekstrim ini, orang-orang setempat selalu memantau prakiraan cuaca terlebih dahulu sebelum keluar, dengan begitu mereka gak mungkin saltum. Untungnya prakiraan cuaca disana selalu benar, selama saya disana sih prakiraan cuacanya selalu benar gak kayak di Indo yang jarang banget benar, gara-gara kebanyakan di pawang nih kayaknya..wkwkkw..bahkan suhu udaranya saja benar sesuai prakiraannya. Suhu udara di hari kedua ini gak jauh berbeda dengan hari pertama, masih tetap dingin di pagi hari walau gak sedingin kemarin. Saya sendiri sudah gak sempat cek prakiraan cuaca, karena BB saya hanya bisa dipake untuk browsing selama di hostel, itupun mengandalkan wifi hostel, selebihnya harus rajin-rajin scanning wifi dimanapun kita berada (yang ujung-ujungnya gara-gara tiap hari pakai wifi selama di Korea, pulang-pulang si BB ngambek, nyari sinyal susahnya ampun-ampun n super lelett). Di Korea benar-benar tidak ada jaringan 2G/GSM, jadinya kalo gak bawa hp 3G gak bakal bisa digunakan hpnya, bahkan sms pun gk bisa..



Rute hari kedua ini jadinya ke Suwon Fortress, Korean Folk Village, Apgujong, dan Itaewon. Tentu saja dengan beberapa tempat tambahan sepulangnya ke areal hostel...wkwkwk...
Hari ini juga kita dapat guide baru, namany Miss Bo, nama lengkap asli susah banget, jadi bener aja dia nyuruh kita manggil dia Bo saja..yang ujung-ujungnya sama kita-kita dipanggil Bobo, n Bu Bo..hehehhe... soalnya Miss Bo ini haburumpir setiap hari selalu datang telat..wkkwkw.. tapi saya sangat bertrimakasih padanya, karena berkat dia saya bisa menemukan Charlie brown cafe di Hongik university, walau kesananya buru-..wkwkwk dan ditemanin langsung ama dia.. Gamsahamnida Miss Bo...



Suwon Fortress.

Letaknya ada di luar kota Seoul, tepatnya ada di kota Suwon. Nama benteng ini sebenarnya Hwaseong Fortress. Jarak dari Seoul kurang lebih 1,5 jam lamanya. Jadi sepanjang perjalanan menuju ke sana, kita-kita sempat tidur dulu menumpuk tenaga. Sesuai prakiraan cuaca, hari ini akan mendung dan suhu di Suwon bener-bener dingin, anginnya apa lagi.dingin menusuk. Begitu turun dari bus kita semua pada ngeluarin sarung tangan, syal, dan kupluk.. ampun dah dingin sekali... (benernya masih gak seberapa dibanding waktu ke Nami Island, yang sampai berasap kalau berbicara, katanya kalau sampai segitu berarti suhunya udah 5 derajat celcius).


Hwaseong Fortress ini adalah sebuah benteng yang mengitari kota Suwon. Benteng ini dibangun oleh King JeongJo untuk mengenang ayahnya yang dibunuh oleh kakeknya, raja sebelumnya. (klo yang ini pasti bener soalnya dibantu ama mak google..heheheh). Saking luasnya benteng ini, gak memungkinkan bagi kita untuk berjalan mengitari semuanya...sama halnya kayak the great wall di RRC. Di tengah-tengahnya sendiri ada istana Haenggung. Untuk mencapai kesana dengan jalan kaki sepertinya gak mungkin deh, mungkin sih tapi sampai sana gempor kayaknya. Di pintu masuk Hwaseong fortress ada kereta wisata yang bisa mengantar kita kesana dengan membayar tiket. Untuk perjalanan kali ini saya tidak sampai menuju ke Haenggung (yang juga merupakan tempat syuting Dae Jang Geum). Saya hanya mengitari sedikit bagian Hwaseong fortress saja.. itupun sudah memakan waktu hampir satu jam. Di bagian depan hwaseong fortress ada lapangan memanah dimana kita bisa mencoba memanah dengan menggunakan panah tradisional dengan membayar tiket.

View dari atas Hwaseong Fortress

Sebelum meninggalkan Hwaseong fortress ini, salah satu dari kami menemukan jajanan menarik namanya fish cake, jadi kue berbentuk ikan, yang didalamnya berisi kacang merah..enak banget dimakan hangat-hangat. Yang jual ahjeohsi-ahjeohsi, jadi tentu saja tidak mengerti bahasa inggris, nah disinilah keuntungannya kita membawa miss Bo, dia bisa menanyakan harga..wkwkkwk harga jajanan ini 2000won dapat 2.








Korean Folk Village.

Rute berikutnya Korean Folk Village, dari Suwon jaraknya sekitar 1 jam kalau saya tidak salah ingat. Di tempat ini kita bisa belajar lebih banyak tentang kehidupan bangsa Korea di jaman dahulu. Di sini juga kita bisa berfoto menggunakan hanbok.

Sesampainya kita di Korean folk village, kita langsung menuju ke rumah makan untuk makan siang. Rumah makan ini letaknya di dalam area Korean Folk Village. Menu andalannya adalah bibimbap. Jadi hari ini kita makan siang bibimbap.hmmm..yummy,,,beda banget sama bibimbap yang kita makan di restaurant Korea di Indo. Kalau di resto-resto korea di Indo rasa bibimbap selalu pedas, jadi rasa makanannya gak gitu terasa, yang kerasa hanya pedasnya gochujang (sambal khas Korea) saja. Kalau yang versi aslinya..tidak begitu pedas dan seafoodnya lebih banyak apalagi guritanya. Yang suka makanan pedas pasti bilang kurang pedas, banyak teman-teman yang masih menambahkan sambal sachet yang mereka bawa dari Indo. Bibimbap sendiri itu campuran dari nasi putih yang diatasnya dihias dengan berbagai lauk, antara lain: sayur, seafood, daging dan telur mentah diatasnya. Kesemua makanan ini dimasukkan dalam mangkok batu (pot) ala hot plate dan langsung dimasak satu persatu dengan potnya seperti hotplate. Seperti makanan korea lainnya, selain ada menu utama pasti ada menu sampingannya, orang sana sepertinya memang terbiasa makan dalam porsi lengkap begini. Menu sampingan yang disediakan diantaranya: kuah kaldu yg di dalamya ada taugenya, kimchi, kacang hitam (ini enak bangettt..rasanya unik), dan tauge rebus. Yang mengena di lidah saya selain kacang hitamnya, tauge/kecambah. Tauge di sana besar-besar, berwarna kuning dan rasanya enak, andai bisa dibawa ke Indo.. Terus terang saya sama sekali gak mau makan tauge di Indo, karena rasanya gak enak, berbau daun menurut saya, tapi tauge di sana gak seperti yang di sini, udah ukurannya gede-gede dan rasanya enak (sulit untuk di ungkapkan rasanya..wkwkkw), saya sampai menghabiskan semua jatah tauge saya...wkwkwkkw...dan tentu saja bibimbapnya. Oh ya, ada satu hal yang saya sukai dari rumah makan di Korea, air putihnya itu lho segar banget.. dan herannya selalu air dingin walau suhu di luar sedingin apapun mereka tetap menyuguhkan air dingin dan rasanya segarrr selalu airnya. Apa jangan-jangan karena suhu yang dingin itu mereka gak mau susah-susah memanaskan airnya, yang ujung-ujungnya dalam waktu sekejap pasti jadi dingin. 
Black bean, tauge, kimchi

Resto Bibimbap tempat kami makan siang
Nih cara memasak bibimbap - thanks to mbk CK for the photo


Setelah perut terisi penuh, saatnya mengeksplor Korean folk village, tapi sebelumnya kita berfoto ria dulu dengan hanbok. Foto studio untuk hanbok ada di bagian depan Korean folk village, sebelum masuk ke gerbang utamanya. Tepatnya ada di depan batu harapan. Harga paket foto dengan hanbok adalah 20000 won untuk satu foto ukuran 10R, kalau couple 30000 won untuk 3 foto, masing-masing foto sendiri dan berdua. Lebih murah couple memang. Yang sangat disayangkan disini, foto studio ini hanya menyediakan hanbok kerajaan, gak ada hanbok biasanya. Saya sih sebenarnya lebih suka yang hanbok biasa, tapi daripada sudah jauh-jauh ke Korea tapi gak pernah foto pake hanbok, ya sudahlah saya foto juga, walau harganya cukup mahal plus ahjeohsi petugas di sana, ampuunnn dah jahat banget. Kita semua gak boleh milih sendiri bajunya. Jadi semua dia yang tentuin, dari hasil terjemahan miss Bo, katanya dia lebih ahli ketimbang kita, jadi percaya saja sama dia. Saya aja harus request dulu baru diperbolehkan foto dengan kostum princess bukan queen yang pake konde itu. 

Walau ternyata ketahuan kenapa dia awalnya suruh saya pake kostum queen, gara-garanya saya berada di antrian awal yang dua pertama sebelum saya itu couple, berikutnya bukan, tapi dibelakang saya cowok, alhasil si ahjeohsi yang sok pintar itu menganggap saya juga mau foto couple sama teman saya di belakang. Capek deh si ahjeohsi ini. Ya daripada dia sewot saya turuti saja disuruh foto bareng, tapi maap ya..untuk fotonya saya gak mau nebus yang couple..kan situ yang nyuruh :P . Alhasil satu rombongan pada ngakak semua tuh gara-gara kejadian itu. Si ahjeohsi juga sewotnya minta ampun kalau kita foto dengan kamera sendiri, walau belakangan karena terlalu banyak orang, dia mulai gak memperhatikan lagi. Untung saja hasil fotonya dia bagus, kalau gak saya bisa ikutan sewot juga..huuuh.

Yang lucu lagi, waktu teman saya ada yang request foto dengan pakaian raja padahal dia cewek, dengan susah payah si Miss Bo membujuk si ahjeohsi tapi gak berhasil, tapi akhirnya berhasil karena bantuan mbak CK.wkwkkwkw... hasil fotonya baguss bangett....

Seperti yang tadi sempat saya sebut sebelumnya di depan gerbang Korean folk village ada dua batu besar yang penuh dengan ikatan kertas putih. Ini adalah batu harapan, jadi orang setempat biasanya mengikatkan kertas yang sudah diisi harapan mereka pada tali yang diikatkan disekeliling batu dan setelah itu mereka berdoa memohon agar harapan mereka terkabulkan. Katanya miss Bo, biasanya permintaan orang setempat adalah agar mereka memiliki anak perempuan. Orang Korea sangat menginginkan anak perempuan, karena dengan memiliki anak perempuan nantinya di hari tua mereka terjamin, karena di budaya Korea, anak perempuanlah yang akan merawat orang tuanya.


Setelah selesai berfoto, kami masuk ke areal Korean folk village. Korean folk village ini arealnya sangat luas, sehingga kami juga tidak mungkin mengeksplor satu persatu. Hampir sama seperti Hanok village, semua bangunan di Korean folk village ini adalah hanok, mulai dari hanok rakyat biasa sampai hanok pejabat istana (di bagian belakang sih ada bangunan modern yang digunakan sebagai museum). Yang unik yang saya temukan di sini adalah sapi Korea.wkwkk..yang membedakan dengan sapi di tempat kita, sapi disini lebih gede ukurannya, dan katanya ini adalah sapi yang dulunya digunakan untuk menarik bajak, dan jenis sapi ini sudah langka, di tempat ini saja tinggal 1 ekor.
hmmm...Made in Korea - Cow

Rute terakhir dari Korean folk village ini adalah sebuah sungai buatan, yang untuk menyeberangi ada 3 cara, yang pertama cara gampang dengan berjalan sedikit memutar dengan menyusuri jalan setapak di tepi sungai, cara kedua dengan menaiki perahu tradisional (lengkap dengan layarnya) dan tentu saja berbayar perahunya, dan cara ketiga dengan melewati batu-batuan yang sudah disusun sedemikian rupa membentuk jembatan. Kami semua memilih yang ketiga karena lebih menantang dan menarik. Saya saja yang sebenarnya takut terpleset nekad juga jalan menyeberangi batu-batu itu, yang memang licin banget..sampai-sampai supaya tidak terpleset saya belain membasahi sepatu saya dengan menginjak batu yang sedikit tergenang air. Walau beberapa dari kami dengan susah payah menyeberanginya, pada akhirnya kami semua berhasil sampai di seberang dengan selamat...sesuatu banget ini bagi saya....heehhehe.. (ini link official websitenya Korean Folk Village http://www.koreanfolk.co.kr/folk/english/main.html).

walau takut harus tetap eksis..hehehhe

Apgujong.
Tau kalau diantara kita banyak yang tergila-gila dengan seleb Korea, sepulang dari Korean Folk Village, kami kembali ke Seoul dan  miss Bo mengajak kami ke Apgujong street. Ini adalah rodeo street yang sepanjang jalannya bertaburan butik-butik dengan merek terkenal dan tidak jarang banyak seleb Korea yang lalu lalang di jalan ini. Jadi bisa dibilang ini adalah jalanan elite di Korea. Saking niatnya ketemu seleb Korea hampir semua orang yang lewat di jalan itu kami perhatikan satu per satu kali aja ada Kim Beom, Lee Min Ho, Song Hye Kyo atau teman-temannya lewat..wkwkkw. Saya dan teman-teman yang jalan beriringan dengan miss Bo gak nemu satu pun. Tapi teman kami yang memilih jalan sendiri ketemu dengan Siwon tapi kw super..wkwkkw asli tapi palsu..hahahha..mirip bangetttt lhooo... (diduga hasil operasi plastik bener ini wajah...wkwkkw).


Nih Oppa Siwon KW super , hsl nemu di Apgujong wkwkkw... (thanks to Rani for the photo - maap y saya crop)

Itaewon.
Rute berikutnya setelah dari Apgujeong adalah Itaewon. Itaewon ini adalah sebuah distrik di Seoul yang kalau kita di sana serasa gak di Korea, karena banyak orang bule dan orang timur tengah di sini. Ya bisa dibilang ini kawasan expatriate-nya Seoul. Di Itaewon, bertaburan rumah makan halal, supermarket halal, toko buku muslim sampai ke laundry muslim. Di Itaewon ini juga berdiri Seoul Central Mosque, kesemua toko-toko yang saya sebut di atas ada di jalan menuju ke masjid ini. Yang perlu dicatat di sini bagi yang mau kesana, siap-siap tenaga ya, karena jalannya cukup menanjak. Dinner kami malam itu juga di kawasan Itaewon ini dan mau gak mau kami harus melewati jalanan menanjak itu karena restonya ada di jalan menuju masjid. Malam ini kami akan mencoba masakan Turki. Seperti biasa saya juga gak ingat baca nama restonya.hehhehe..karena sudah terlalu lapar waktu sampai disana.

Sebelum dinner beberapa diantara kami ada yang sholat dulu di Masjid Seoul dan  kami yang non-muslim mengeksplore areal di bawah yang banyak pertokoannya. Walau waktunya cuma 1 jam, sebelum akhirnya kami berkumpul lagi di resto Turki untuk dinner, kami masih sempat belanja, yang tak lain dan lagi-lagi...kami berbelanja lagi di sebuah toko yang desain tokonya imut dan berwarna pink, apalagi kalau bukan Etude house. Memang di Korea yang namanya toko kosmetik dapat ditemukan hampir di setiap sudut kota, bahkan ada yang jaraknya berdekatan. Etude House di Itaewon memberikan discount tambahan 10% bagi turis, dan bonus yang diberikan lebih menarik dibanding yang ada di daerah Hyewa (dekat hostel). Ya ampunnn.... alhasil saya dan teman-teman kembali kalap belanja Etude di sini dan kali ini lebih kalap dari kemarin, karena dapat discount tambahan 10% dan bonus yang lebih bagus. Waktu sejam hampir tidak cukup bagi kami untuk memilih-milih kosmetik di Etude house, padahal ya, Etude house itu kebanyakan kecil lho tokonya, termasuk yang di Itaewon ini, dan kita sekitar ber-6 kemarin, alhasil suasana toko jadi meriah dan sempiitttt...wkkwkwk...sampai bayar aja ngantri.. TIPS buat yang mau belanja di Etude house atau toko kosmetik lain di Korea, jangan malu-malu untuk minta discount dan minta bonus ke kasirnya, mereka baik banget  dan ramah-ramah. Saya sendiri berhasil dapat bonus sample di faceshop walau cuma belanja dikit, padahal awalnya si ahjumoenni gak mau kasih, tapi ujung-ujungnya pas saya bayar dikasih juga..hehehehehe...




Itaewon memang rute terakhir kami untuk hari itu, tapi berhubung waktu baru pukul 9..saya masih melalang buana ke sekitar hostel. Yang pertama saya tuju adalah daiso yang letaknya hanya beberapa rumah dari hostel. Daiso di sini gede banget, 3 lantai dan barangnya benar-benar beraneka ragam, dari makanan sampai peralatan rumah tangga ada semua. Kalau di Indonesia Daiso menawarkan semua barang dengan 1 harga 22rb rupiah, di Korea harganya bervariasi 500 - 5000 won (Rp 4500 - 45000), dan barangnya lebih lucu-lucu dan unik. Saya sendiri hampir kalap belanja di sini. Untung saja koper yang saya bawa ukurannya kecil, kalau saya bawa koper gede bisa gawat, bisa-bisa satu koper isinya Etude sama barang-barang daiso. Bagi yang mau cari oleh-oleh berupa makanan, daiso bisa menjadi salah satu alternatif, tapi harus selektif ya, karena banyak yang bukan made in Korea. Untuk barang-barangnya juga banyak made in China-nya. Daiso ini bukanya jam 10 pagi dan tutupnya jam 10 malam. Untunglah tutupnya jam segitu, kalau buka 24 jam bisa-bisa saya sampai pagi di sana, sibuk memilih pernak-pernik...wkkwkw..

Setelah dari Daiso, awalnya saya berniat untuk pulang ke hostel dan istirahat, tapi siapa sangka kalau kunci kamar saya dibawa oleh rekan sekamar yang saat itu sedang jalan-jalan ke Dongdaemun market yang pada awalnya katanya dia cuma mau ke salon depan hostel doang, kalau begini ceritanya siap-siap tidur subuh deh, karena sudah pasti kalau belanja ke Dongdaemun pulangnya  di atas jam 1. Dari hal ini saya dapat suatu pelajaran, kalau traveling barengan orang banyak itu perlu toleransi tinggi, dan sudah  seharusnya juga yang ditoleransiin bisa bersikap yang sama terhadap yang lain. Saya kesal banget hari itu, karena orang yang bersangkutan sama sekali tidak merasa bersalah, dia balik-balik cuma bilang kok gak bbm sih..padahal waktu itu kita sudah bbm loh, dan memang agak delay karena wifi hostel lagi ngadat. Apa susahnya sih bilang satu kata 'maaf' toh dia bukan Tao Ming Tse yang memang anti bilang maaf, si Tao Ming Tse saja akhirnya bilang maaf juga. Ya susah deh, berhubung perjalanan masih panjang, mau gak mau ya saya harus ngalah.. So pelajaran moral di sini: jangan lupa meminta maaf apabila melakukan kesalahan, sekecil apapun kesalahan itu dan dalam hidup bertetangga perlu adanya sikap saling bertoleransi (kok jadi kayak pelajaran kewarganegaraan ya/ PMP jaman SD ya..wkwkwkkw)

Sambil menunggu pembawa kunci pulang dari jalan-jalannya, saya akhirnya keliling sekitar hostel lagi dan akhirnya baru pulang jam 12 malam dengan menenteng faceshop dan segelas ginger tea (rasanya enak bangett..saking ketagihannya, saya sampai beli sachetannya di daiso - walau sebenarnya beda merek, yang penting ginger tea deh..hehehehe...). Ginger tea yang saya beli itu labelnya family mart dan sachetannya itu cair bukan bubuk. Enak banget deh, minum yang hangat-hangat begitu di tengah malam yang dingin semeriwing. Setelah balik dari jalan-jalan, tadinya saya mau nunggu di lobby hostel saja, tapi ternyata berhubung kita ribut, penjaga hostel, yang kami panggil ' Bambang ' (asal muasal panggilan ini dari salah satu teman seperjalanan saya, gara-garanya nama asli si Bambang ini gak ada yang ingat karena saking susahnya, alhasil berhubung biasanya di Indo yang jaga hostel, penginapan namanya seputaran Bambang, Slamet,dkk, akhirnya ya dipanggil Bambang sama teman saya, ujung-ujungnya kami semua manggil Bambang juga - tapi gak di depan orangnya langsung lho,,,) mengusir kami secara halus, katanya maap kami sudah tutup, sampai jam 12 saja ya internetannya - memang kebetulan di lobby depan ada komputer yang bisa kita pakai untuk internetan, gratisss. Si Bambang ini, aslinya tampangnya lumayan, gak kalah ama aktor-aktor Korea, jadi gak jelek-jelek amat, mirip sama figuran-figuran di K-drama. Awalnya banyak yang berencana ngajak si Bambang foto bareng, tapi belakangan jadi illfill, termasuk saya, gara-gara si Bambang penampilannya cuek abis. Dari kita datang sampe pulang selalu pake sweater pink, dan setiap kali kita mau berangkat dan pulang jalan-jalan selalu acak-acakan dan kucel tuh orang, jadinya illfill deh sama dia...wkwkkwkw...


Kurang lebih begitulah kisah petualangan saya di hari kedua saya di Korea (kisah..??!! emangnya dongeng, harusnya awal tadi pakai alkisah ya..hahhahahaha). Hari kedua ini hampir seharian bersentuhan dengan keindahan alam dan gaya hidup orang Korea. Keindahan alam dari pemandangan di Hwaseong fortress, Korean folk village, dan gaya hidup mereka di masa lampau dari Korean folk village,  dan masa kini di Apgujong dan  Itaewon.

Postingan lainnya tentang Korea dapat dibaca di link ini.
Next -> Eps 3 - KOREA - Romantic & Cozy