Wednesday, December 21, 2011

South Korea Trip - EPILOG - The preparation

Apa saja yang saya persiapkan sebelum melakukan perjalanan impian saya ini:

Tabungan

Namanya juga perjalanan, pasti membutuhkan dana. Untuk itu jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah harus mempersiapkan dana di tabungan yang cukup untuk membiayai perjalanan saya, dan ini juga merupakan salah satu syarat dalam apply visa korea. Sebenarnya tidak ada jumlah yang pasti untuk tabungan yang ditentukan oleh kedutaan. Selama dana di tabungan kita mencukupi untuk biaya perjalanan kita selama di Korea, maka sudah dikatakan sudah memenuhi syarat, gampangannya jumlah tabungan yang ada adalah sejumlah: harga tiket pp (walau sudah beli tetap harus ada sejumlah ini) + akomodasi + uang saku selama di sana, jumlah ini harus mengendap di rekening tabungan selama 3 bulan. Sebenarnya tabungan banyak juga tidaklah menentukan keluar tidaknya visa kita, karena ada lho yang tabungannya kurang dari 10 juta dan tidak mengendap bisa berhasil mendapatkan visa Korea, dan yang tabungannya puluhan juta malah ditolak aplikasinya. Jadi intinya berhasil tidaknya visa tergantung dari kita sendiri, biasanya yang dipertimbangkan adalah pekerjaan kita, track record perjalanan kita, kelengkapan dokumen dan barulah hal lainnya seperti tabungan,dll (thanks to Mbak Claudia for the tips n trick how to apply Korean visa).

Tiket pesawat (beserta akomodasi dll)

Saturday, December 10, 2011

Eps 4 - KOREA - Romantic & Cozy


Perjalanan di hari ketiga disambut dengan hujan gerimis di Seoul. Hari ini saya dan teman-teman akan mengunjungi suatu tempat yang pernah digunakan sebagai lokasi syuting Beethoven Virus dan Winter Sonata. Keduanya letaknya lumayan jauh dari Seoul sehingga selama perjalanan kami pada tidur semua, ditambah lagi cuaca mendung di luar yang memang membuat kami semakin mengantuk. Rute lengkap hari ini adalah: Petite France, Nami Island, Hongik University, Dongdaemun area. Kalau boleh saya beri tema, tempat-tempat yang saya kunjungi hari ini adalah tempat-tempat yang romantis dan tempat nongkrong yang cozy.

Petite France 
Perancis di Korea ;D
Letaknya di provinsi GyeongGi (GyeongGi-Do) sekitar 2 jam dari Seoul. Sesuai namany Petite France ini adalah suatu daerah yang dibangun dengan tema Perancis, jadi semua bangunan di sana berdesain seperti bangunan di Perancis, termasuk juga taman-taman yang ada. Kata Petit kalau dalam bahasa Perancis berarti Kecil dan indah. Begitu memasuki kawasan Petite France, dimanapun kita berada akan serasa berada di luar Korea, serasa berada di Perancis, bahkan lagu yang di setel saja lagu Perancis. Petite France adalah sebuah kawasan yang dibangun khusus dengan desain dengan tema Perancis untuk memperkenalkan budaya Perancis. Penggemar K-drama Beethoven Virus pasti tidak asing dengan tempat ini, karena tempat syuting drama ini berlokasi di sini. Oleh karena itu, ada satu rumah khusus yang memajang tanda tangan para pemeran di Beethoven Virus.
Pemandangan di tempat ini sangat indah, foto di mana saja di sana dijamin hasilnya akan bagus dan serasa di Perancis. Sayang pada waktu saya ke sana cuaca sedikit tidak mendukung, gerimis dan suhu cukup dingin.


Nami Island.








Bagi saya sangat sulit untuk melukiskan keindahan Nami Island, karena hampir di setiap sudut pulau ini memiliki panorama yang luar biasa indah, tidak hanya di musim gugur tapi saya yakin di setiap musim pulau ini tetap terlihat indah. Untuk mencapai pulau Nami atau Naminara republic, kita harus menaiki ferry sekitar kurang lebih 10-15 menit. Ferry yang menyeberangkan pengunjung ke pulau Nami terlihat menarik, karena di sekililing kapal ferry ini dipasang bendera berbagai negara, termasuk bendera Merah putih turut berkibar di kapal ferry ini. Sebenarnya ada cara lain yang lebih ekstrim untuk menyeberang ke Pulau Nami. Tapi cara ini hanya diperuntukan bagi mereka yang punya nyali besar dan ingin memicu adrenalinnya. Cara yang kedua adalah dengan flying fox yang jaraknya cukup panjang dan cukup tinggi..hiiiii..saya sendiri tidak tertarik pakai cara ini. boro-boro dah, gak kebayang gimana rasanya di atas sana, sudah tingginya minta ampun, jaraknya juga lumayan, dan suhu saat itu dingin sekali, saking dinginnya, napas kita akan terlihat seperti asap setiap kali kita berbicara. Katanya sih kalau sudah seperti itu suhunya berarti udah sekitar 5 derajat Celcius. Kalau di permukaan saja suhunya segitu apalagi di atas. Saya sih tidak sempat mengecek ketinggian flying fox itu tapi sejauh mata memandang yang pasti ketinggiannya melebihi 80 m dari daratan.

Flying fox station


Ada hal yang menarik di pelabuhan penyeberangan ferry ini. Selain terpasang bendera beberapa negara, desainnya sangat bagus, seolah-olah menjadi pintu gerbang memasuki suatu negara baru yang mereka sebut Naminara Republic yang berdesain mirip gerbang-gerbang di taman bertema oriental, lengkap dengan immigration checkingnya..wkwkkwkw.. saya dan teman-teman sampai tertipu di sini, karena mbak CK bilang kalau kita diminta menunjukkan paspor sebelum menaiki ferry. Kita sih percaya-percaya saja, pertama karena yang bilang mbak CK, kedua karena memang di sana sendiri ada tulisan immigrationnya jadi kita percayaa...eh giliran semua udah berbaris rapi menunggu kapal ferry datang, kita heran kenapa tidak ada petugasnya ya, akhirnya salah satu dari kita bertanya ke miss Bo, guide kita, checking paspor-nya kapan ya? soalnya rawan nih ngeluarin paspor sambil di pegang tangan begini. Kontan saja miss Bo ketawa waktu kita menanyakan itu, katanya oh you dont need to show your pasport, Nami is still Korea. They write that thing for joking..hahhahaha...haisss..beneran kena semua nih kita-kita, mbak CK cuma ketawa-ketawa aja di belakang.


KOREA~ nature, beauty & lifestyle - Eps 3

Perjalanan hari kedua dimulai lebih awal, karena hari ini kita akan keluar kota Seoul. Rencana awal di hari kedua ini kita akan mengunjungi Petite France dan Nami Island, tapi karena menurut prakiraan cuaca hari ini akan hujan di daerah sana, mau gak mau kita harus ganti rute. Di Korea pada musim gugur yang cuacanya ekstrim ini, orang-orang setempat selalu memantau prakiraan cuaca terlebih dahulu sebelum keluar, dengan begitu mereka gak mungkin saltum. Untungnya prakiraan cuaca disana selalu benar, selama saya disana sih prakiraan cuacanya selalu benar gak kayak di Indo yang jarang banget benar, gara-gara kebanyakan di pawang nih kayaknya..wkwkkw..bahkan suhu udaranya saja benar sesuai prakiraannya. Suhu udara di hari kedua ini gak jauh berbeda dengan hari pertama, masih tetap dingin di pagi hari walau gak sedingin kemarin. Saya sendiri sudah gak sempat cek prakiraan cuaca, karena BB saya hanya bisa dipake untuk browsing selama di hostel, itupun mengandalkan wifi hostel, selebihnya harus rajin-rajin scanning wifi dimanapun kita berada (yang ujung-ujungnya gara-gara tiap hari pakai wifi selama di Korea, pulang-pulang si BB ngambek, nyari sinyal susahnya ampun-ampun n super lelett). Di Korea benar-benar tidak ada jaringan 2G/GSM, jadinya kalo gak bawa hp 3G gak bakal bisa digunakan hpnya, bahkan sms pun gk bisa..



Rute hari kedua ini jadinya ke Suwon Fortress, Korean Folk Village, Apgujong, dan Itaewon. Tentu saja dengan beberapa tempat tambahan sepulangnya ke areal hostel...wkwkwk...
Hari ini juga kita dapat guide baru, namany Miss Bo, nama lengkap asli susah banget, jadi bener aja dia nyuruh kita manggil dia Bo saja..yang ujung-ujungnya sama kita-kita dipanggil Bobo, n Bu Bo..hehehhe... soalnya Miss Bo ini haburumpir setiap hari selalu datang telat..wkkwkw.. tapi saya sangat bertrimakasih padanya, karena berkat dia saya bisa menemukan Charlie brown cafe di Hongik university, walau kesananya buru-..wkwkwk dan ditemanin langsung ama dia.. Gamsahamnida Miss Bo...



Suwon Fortress.

Letaknya ada di luar kota Seoul, tepatnya ada di kota Suwon. Nama benteng ini sebenarnya Hwaseong Fortress. Jarak dari Seoul kurang lebih 1,5 jam lamanya. Jadi sepanjang perjalanan menuju ke sana, kita-kita sempat tidur dulu menumpuk tenaga. Sesuai prakiraan cuaca, hari ini akan mendung dan suhu di Suwon bener-bener dingin, anginnya apa lagi.dingin menusuk. Begitu turun dari bus kita semua pada ngeluarin sarung tangan, syal, dan kupluk.. ampun dah dingin sekali... (benernya masih gak seberapa dibanding waktu ke Nami Island, yang sampai berasap kalau berbicara, katanya kalau sampai segitu berarti suhunya udah 5 derajat celcius).


Hwaseong Fortress ini adalah sebuah benteng yang mengitari kota Suwon. Benteng ini dibangun oleh King JeongJo untuk mengenang ayahnya yang dibunuh oleh kakeknya, raja sebelumnya. (klo yang ini pasti bener soalnya dibantu ama mak google..heheheh). Saking luasnya benteng ini, gak memungkinkan bagi kita untuk berjalan mengitari semuanya...sama halnya kayak the great wall di RRC. Di tengah-tengahnya sendiri ada istana Haenggung. Untuk mencapai kesana dengan jalan kaki sepertinya gak mungkin deh, mungkin sih tapi sampai sana gempor kayaknya. Di pintu masuk Hwaseong fortress ada kereta wisata yang bisa mengantar kita kesana dengan membayar tiket. Untuk perjalanan kali ini saya tidak sampai menuju ke Haenggung (yang juga merupakan tempat syuting Dae Jang Geum). Saya hanya mengitari sedikit bagian Hwaseong fortress saja.. itupun sudah memakan waktu hampir satu jam. Di bagian depan hwaseong fortress ada lapangan memanah dimana kita bisa mencoba memanah dengan menggunakan panah tradisional dengan membayar tiket.

View dari atas Hwaseong Fortress

Sebelum meninggalkan Hwaseong fortress ini, salah satu dari kami menemukan jajanan menarik namanya fish cake, jadi kue berbentuk ikan, yang didalamnya berisi kacang merah..enak banget dimakan hangat-hangat. Yang jual ahjeohsi-ahjeohsi, jadi tentu saja tidak mengerti bahasa inggris, nah disinilah keuntungannya kita membawa miss Bo, dia bisa menanyakan harga..wkwkkwk harga jajanan ini 2000won dapat 2.








Korean Folk Village.

Rute berikutnya Korean Folk Village, dari Suwon jaraknya sekitar 1 jam kalau saya tidak salah ingat. Di tempat ini kita bisa belajar lebih banyak tentang kehidupan bangsa Korea di jaman dahulu. Di sini juga kita bisa berfoto menggunakan hanbok.

Sesampainya kita di Korean folk village, kita langsung menuju ke rumah makan untuk makan siang. Rumah makan ini letaknya di dalam area Korean Folk Village. Menu andalannya adalah bibimbap. Jadi hari ini kita makan siang bibimbap.hmmm..yummy,,,beda banget sama bibimbap yang kita makan di restaurant Korea di Indo. Kalau di resto-resto korea di Indo rasa bibimbap selalu pedas, jadi rasa makanannya gak gitu terasa, yang kerasa hanya pedasnya gochujang (sambal khas Korea) saja. Kalau yang versi aslinya..tidak begitu pedas dan seafoodnya lebih banyak apalagi guritanya. Yang suka makanan pedas pasti bilang kurang pedas, banyak teman-teman yang masih menambahkan sambal sachet yang mereka bawa dari Indo. Bibimbap sendiri itu campuran dari nasi putih yang diatasnya dihias dengan berbagai lauk, antara lain: sayur, seafood, daging dan telur mentah diatasnya. Kesemua makanan ini dimasukkan dalam mangkok batu (pot) ala hot plate dan langsung dimasak satu persatu dengan potnya seperti hotplate. Seperti makanan korea lainnya, selain ada menu utama pasti ada menu sampingannya, orang sana sepertinya memang terbiasa makan dalam porsi lengkap begini. Menu sampingan yang disediakan diantaranya: kuah kaldu yg di dalamya ada taugenya, kimchi, kacang hitam (ini enak bangettt..rasanya unik), dan tauge rebus. Yang mengena di lidah saya selain kacang hitamnya, tauge/kecambah. Tauge di sana besar-besar, berwarna kuning dan rasanya enak, andai bisa dibawa ke Indo.. Terus terang saya sama sekali gak mau makan tauge di Indo, karena rasanya gak enak, berbau daun menurut saya, tapi tauge di sana gak seperti yang di sini, udah ukurannya gede-gede dan rasanya enak (sulit untuk di ungkapkan rasanya..wkwkkw), saya sampai menghabiskan semua jatah tauge saya...wkwkwkkw...dan tentu saja bibimbapnya. Oh ya, ada satu hal yang saya sukai dari rumah makan di Korea, air putihnya itu lho segar banget.. dan herannya selalu air dingin walau suhu di luar sedingin apapun mereka tetap menyuguhkan air dingin dan rasanya segarrr selalu airnya. Apa jangan-jangan karena suhu yang dingin itu mereka gak mau susah-susah memanaskan airnya, yang ujung-ujungnya dalam waktu sekejap pasti jadi dingin. 
Black bean, tauge, kimchi

Resto Bibimbap tempat kami makan siang
Nih cara memasak bibimbap - thanks to mbk CK for the photo


Setelah perut terisi penuh, saatnya mengeksplor Korean folk village, tapi sebelumnya kita berfoto ria dulu dengan hanbok. Foto studio untuk hanbok ada di bagian depan Korean folk village, sebelum masuk ke gerbang utamanya. Tepatnya ada di depan batu harapan. Harga paket foto dengan hanbok adalah 20000 won untuk satu foto ukuran 10R, kalau couple 30000 won untuk 3 foto, masing-masing foto sendiri dan berdua. Lebih murah couple memang. Yang sangat disayangkan disini, foto studio ini hanya menyediakan hanbok kerajaan, gak ada hanbok biasanya. Saya sih sebenarnya lebih suka yang hanbok biasa, tapi daripada sudah jauh-jauh ke Korea tapi gak pernah foto pake hanbok, ya sudahlah saya foto juga, walau harganya cukup mahal plus ahjeohsi petugas di sana, ampuunnn dah jahat banget. Kita semua gak boleh milih sendiri bajunya. Jadi semua dia yang tentuin, dari hasil terjemahan miss Bo, katanya dia lebih ahli ketimbang kita, jadi percaya saja sama dia. Saya aja harus request dulu baru diperbolehkan foto dengan kostum princess bukan queen yang pake konde itu. 

Walau ternyata ketahuan kenapa dia awalnya suruh saya pake kostum queen, gara-garanya saya berada di antrian awal yang dua pertama sebelum saya itu couple, berikutnya bukan, tapi dibelakang saya cowok, alhasil si ahjeohsi yang sok pintar itu menganggap saya juga mau foto couple sama teman saya di belakang. Capek deh si ahjeohsi ini. Ya daripada dia sewot saya turuti saja disuruh foto bareng, tapi maap ya..untuk fotonya saya gak mau nebus yang couple..kan situ yang nyuruh :P . Alhasil satu rombongan pada ngakak semua tuh gara-gara kejadian itu. Si ahjeohsi juga sewotnya minta ampun kalau kita foto dengan kamera sendiri, walau belakangan karena terlalu banyak orang, dia mulai gak memperhatikan lagi. Untung saja hasil fotonya dia bagus, kalau gak saya bisa ikutan sewot juga..huuuh.

Yang lucu lagi, waktu teman saya ada yang request foto dengan pakaian raja padahal dia cewek, dengan susah payah si Miss Bo membujuk si ahjeohsi tapi gak berhasil, tapi akhirnya berhasil karena bantuan mbak CK.wkwkkwkw... hasil fotonya baguss bangett....

Seperti yang tadi sempat saya sebut sebelumnya di depan gerbang Korean folk village ada dua batu besar yang penuh dengan ikatan kertas putih. Ini adalah batu harapan, jadi orang setempat biasanya mengikatkan kertas yang sudah diisi harapan mereka pada tali yang diikatkan disekeliling batu dan setelah itu mereka berdoa memohon agar harapan mereka terkabulkan. Katanya miss Bo, biasanya permintaan orang setempat adalah agar mereka memiliki anak perempuan. Orang Korea sangat menginginkan anak perempuan, karena dengan memiliki anak perempuan nantinya di hari tua mereka terjamin, karena di budaya Korea, anak perempuanlah yang akan merawat orang tuanya.


Setelah selesai berfoto, kami masuk ke areal Korean folk village. Korean folk village ini arealnya sangat luas, sehingga kami juga tidak mungkin mengeksplor satu persatu. Hampir sama seperti Hanok village, semua bangunan di Korean folk village ini adalah hanok, mulai dari hanok rakyat biasa sampai hanok pejabat istana (di bagian belakang sih ada bangunan modern yang digunakan sebagai museum). Yang unik yang saya temukan di sini adalah sapi Korea.wkwkk..yang membedakan dengan sapi di tempat kita, sapi disini lebih gede ukurannya, dan katanya ini adalah sapi yang dulunya digunakan untuk menarik bajak, dan jenis sapi ini sudah langka, di tempat ini saja tinggal 1 ekor.
hmmm...Made in Korea - Cow

Rute terakhir dari Korean folk village ini adalah sebuah sungai buatan, yang untuk menyeberangi ada 3 cara, yang pertama cara gampang dengan berjalan sedikit memutar dengan menyusuri jalan setapak di tepi sungai, cara kedua dengan menaiki perahu tradisional (lengkap dengan layarnya) dan tentu saja berbayar perahunya, dan cara ketiga dengan melewati batu-batuan yang sudah disusun sedemikian rupa membentuk jembatan. Kami semua memilih yang ketiga karena lebih menantang dan menarik. Saya saja yang sebenarnya takut terpleset nekad juga jalan menyeberangi batu-batu itu, yang memang licin banget..sampai-sampai supaya tidak terpleset saya belain membasahi sepatu saya dengan menginjak batu yang sedikit tergenang air. Walau beberapa dari kami dengan susah payah menyeberanginya, pada akhirnya kami semua berhasil sampai di seberang dengan selamat...sesuatu banget ini bagi saya....heehhehe.. (ini link official websitenya Korean Folk Village http://www.koreanfolk.co.kr/folk/english/main.html).

walau takut harus tetap eksis..hehehhe

Apgujong.
Tau kalau diantara kita banyak yang tergila-gila dengan seleb Korea, sepulang dari Korean Folk Village, kami kembali ke Seoul dan  miss Bo mengajak kami ke Apgujong street. Ini adalah rodeo street yang sepanjang jalannya bertaburan butik-butik dengan merek terkenal dan tidak jarang banyak seleb Korea yang lalu lalang di jalan ini. Jadi bisa dibilang ini adalah jalanan elite di Korea. Saking niatnya ketemu seleb Korea hampir semua orang yang lewat di jalan itu kami perhatikan satu per satu kali aja ada Kim Beom, Lee Min Ho, Song Hye Kyo atau teman-temannya lewat..wkwkkw. Saya dan teman-teman yang jalan beriringan dengan miss Bo gak nemu satu pun. Tapi teman kami yang memilih jalan sendiri ketemu dengan Siwon tapi kw super..wkwkkw asli tapi palsu..hahahha..mirip bangetttt lhooo... (diduga hasil operasi plastik bener ini wajah...wkwkkw).


Nih Oppa Siwon KW super , hsl nemu di Apgujong wkwkkw... (thanks to Rani for the photo - maap y saya crop)

Itaewon.
Rute berikutnya setelah dari Apgujeong adalah Itaewon. Itaewon ini adalah sebuah distrik di Seoul yang kalau kita di sana serasa gak di Korea, karena banyak orang bule dan orang timur tengah di sini. Ya bisa dibilang ini kawasan expatriate-nya Seoul. Di Itaewon, bertaburan rumah makan halal, supermarket halal, toko buku muslim sampai ke laundry muslim. Di Itaewon ini juga berdiri Seoul Central Mosque, kesemua toko-toko yang saya sebut di atas ada di jalan menuju ke masjid ini. Yang perlu dicatat di sini bagi yang mau kesana, siap-siap tenaga ya, karena jalannya cukup menanjak. Dinner kami malam itu juga di kawasan Itaewon ini dan mau gak mau kami harus melewati jalanan menanjak itu karena restonya ada di jalan menuju masjid. Malam ini kami akan mencoba masakan Turki. Seperti biasa saya juga gak ingat baca nama restonya.hehhehe..karena sudah terlalu lapar waktu sampai disana.

Sebelum dinner beberapa diantara kami ada yang sholat dulu di Masjid Seoul dan  kami yang non-muslim mengeksplore areal di bawah yang banyak pertokoannya. Walau waktunya cuma 1 jam, sebelum akhirnya kami berkumpul lagi di resto Turki untuk dinner, kami masih sempat belanja, yang tak lain dan lagi-lagi...kami berbelanja lagi di sebuah toko yang desain tokonya imut dan berwarna pink, apalagi kalau bukan Etude house. Memang di Korea yang namanya toko kosmetik dapat ditemukan hampir di setiap sudut kota, bahkan ada yang jaraknya berdekatan. Etude House di Itaewon memberikan discount tambahan 10% bagi turis, dan bonus yang diberikan lebih menarik dibanding yang ada di daerah Hyewa (dekat hostel). Ya ampunnn.... alhasil saya dan teman-teman kembali kalap belanja Etude di sini dan kali ini lebih kalap dari kemarin, karena dapat discount tambahan 10% dan bonus yang lebih bagus. Waktu sejam hampir tidak cukup bagi kami untuk memilih-milih kosmetik di Etude house, padahal ya, Etude house itu kebanyakan kecil lho tokonya, termasuk yang di Itaewon ini, dan kita sekitar ber-6 kemarin, alhasil suasana toko jadi meriah dan sempiitttt...wkkwkwk...sampai bayar aja ngantri.. TIPS buat yang mau belanja di Etude house atau toko kosmetik lain di Korea, jangan malu-malu untuk minta discount dan minta bonus ke kasirnya, mereka baik banget  dan ramah-ramah. Saya sendiri berhasil dapat bonus sample di faceshop walau cuma belanja dikit, padahal awalnya si ahjumoenni gak mau kasih, tapi ujung-ujungnya pas saya bayar dikasih juga..hehehehehe...




Itaewon memang rute terakhir kami untuk hari itu, tapi berhubung waktu baru pukul 9..saya masih melalang buana ke sekitar hostel. Yang pertama saya tuju adalah daiso yang letaknya hanya beberapa rumah dari hostel. Daiso di sini gede banget, 3 lantai dan barangnya benar-benar beraneka ragam, dari makanan sampai peralatan rumah tangga ada semua. Kalau di Indonesia Daiso menawarkan semua barang dengan 1 harga 22rb rupiah, di Korea harganya bervariasi 500 - 5000 won (Rp 4500 - 45000), dan barangnya lebih lucu-lucu dan unik. Saya sendiri hampir kalap belanja di sini. Untung saja koper yang saya bawa ukurannya kecil, kalau saya bawa koper gede bisa gawat, bisa-bisa satu koper isinya Etude sama barang-barang daiso. Bagi yang mau cari oleh-oleh berupa makanan, daiso bisa menjadi salah satu alternatif, tapi harus selektif ya, karena banyak yang bukan made in Korea. Untuk barang-barangnya juga banyak made in China-nya. Daiso ini bukanya jam 10 pagi dan tutupnya jam 10 malam. Untunglah tutupnya jam segitu, kalau buka 24 jam bisa-bisa saya sampai pagi di sana, sibuk memilih pernak-pernik...wkkwkw..

Setelah dari Daiso, awalnya saya berniat untuk pulang ke hostel dan istirahat, tapi siapa sangka kalau kunci kamar saya dibawa oleh rekan sekamar yang saat itu sedang jalan-jalan ke Dongdaemun market yang pada awalnya katanya dia cuma mau ke salon depan hostel doang, kalau begini ceritanya siap-siap tidur subuh deh, karena sudah pasti kalau belanja ke Dongdaemun pulangnya  di atas jam 1. Dari hal ini saya dapat suatu pelajaran, kalau traveling barengan orang banyak itu perlu toleransi tinggi, dan sudah  seharusnya juga yang ditoleransiin bisa bersikap yang sama terhadap yang lain. Saya kesal banget hari itu, karena orang yang bersangkutan sama sekali tidak merasa bersalah, dia balik-balik cuma bilang kok gak bbm sih..padahal waktu itu kita sudah bbm loh, dan memang agak delay karena wifi hostel lagi ngadat. Apa susahnya sih bilang satu kata 'maaf' toh dia bukan Tao Ming Tse yang memang anti bilang maaf, si Tao Ming Tse saja akhirnya bilang maaf juga. Ya susah deh, berhubung perjalanan masih panjang, mau gak mau ya saya harus ngalah.. So pelajaran moral di sini: jangan lupa meminta maaf apabila melakukan kesalahan, sekecil apapun kesalahan itu dan dalam hidup bertetangga perlu adanya sikap saling bertoleransi (kok jadi kayak pelajaran kewarganegaraan ya/ PMP jaman SD ya..wkwkwkkw)

Sambil menunggu pembawa kunci pulang dari jalan-jalannya, saya akhirnya keliling sekitar hostel lagi dan akhirnya baru pulang jam 12 malam dengan menenteng faceshop dan segelas ginger tea (rasanya enak bangett..saking ketagihannya, saya sampai beli sachetannya di daiso - walau sebenarnya beda merek, yang penting ginger tea deh..hehehehe...). Ginger tea yang saya beli itu labelnya family mart dan sachetannya itu cair bukan bubuk. Enak banget deh, minum yang hangat-hangat begitu di tengah malam yang dingin semeriwing. Setelah balik dari jalan-jalan, tadinya saya mau nunggu di lobby hostel saja, tapi ternyata berhubung kita ribut, penjaga hostel, yang kami panggil ' Bambang ' (asal muasal panggilan ini dari salah satu teman seperjalanan saya, gara-garanya nama asli si Bambang ini gak ada yang ingat karena saking susahnya, alhasil berhubung biasanya di Indo yang jaga hostel, penginapan namanya seputaran Bambang, Slamet,dkk, akhirnya ya dipanggil Bambang sama teman saya, ujung-ujungnya kami semua manggil Bambang juga - tapi gak di depan orangnya langsung lho,,,) mengusir kami secara halus, katanya maap kami sudah tutup, sampai jam 12 saja ya internetannya - memang kebetulan di lobby depan ada komputer yang bisa kita pakai untuk internetan, gratisss. Si Bambang ini, aslinya tampangnya lumayan, gak kalah ama aktor-aktor Korea, jadi gak jelek-jelek amat, mirip sama figuran-figuran di K-drama. Awalnya banyak yang berencana ngajak si Bambang foto bareng, tapi belakangan jadi illfill, termasuk saya, gara-gara si Bambang penampilannya cuek abis. Dari kita datang sampe pulang selalu pake sweater pink, dan setiap kali kita mau berangkat dan pulang jalan-jalan selalu acak-acakan dan kucel tuh orang, jadinya illfill deh sama dia...wkwkkwkw...


Kurang lebih begitulah kisah petualangan saya di hari kedua saya di Korea (kisah..??!! emangnya dongeng, harusnya awal tadi pakai alkisah ya..hahhahahaha). Hari kedua ini hampir seharian bersentuhan dengan keindahan alam dan gaya hidup orang Korea. Keindahan alam dari pemandangan di Hwaseong fortress, Korean folk village, dan gaya hidup mereka di masa lampau dari Korean folk village,  dan masa kini di Apgujong dan  Itaewon.

Postingan lainnya tentang Korea dapat dibaca di link ini.
Next -> Eps 3 - KOREA - Romantic & Cozy


Monday, December 5, 2011

Seoul - I am coming - Eps 2



s.e.o.u.l 함께 불러봐요 꿈이 이뤄질 아름다운 세상

s.e.o.u.l hamkke bulleobwayo kkumi irweojil aremdaun sesang

어디서나 즐거움이 넘치는 ~ 사랑해

eodiseona jelkeoumi neomchineun got~ saranghae

s.e.o.u.l 함께 외쳐봐요 어디서라도 웃을 있는

s.e.o.u.l hamkke weichyeobwayo eodiseorado usel su ittnen

행복 모두가 하나되는 세상 만들어요

haengbok moduga hanadweinen sesang mandereoyo 
 
 (english: S.E.O.U.L. Call it with me, the beautiful world that makes my dreams come true
The place where joy overflows wherever I go~ I love you~
S.E.O.U.L. Shout it with me, the happiness that can laugh
 Anywhere~~ We make a world where everything becomes one)
Day 1 - Seoul, the real city of dreams...
its culture, its beauty, and its technology


Setuju banget  sama lirik lagu Seoul Song (theme song visit Korea year yang dinyanyikan SNSD dan Super Junior), Seoul memang kota yang indah, kota di mana semua harapan dan impian menjadi kenyataan. Saya sendiri sampai terpukau-pukau melihatnya, serasa gak mau pulang kalau sudah disana... terlalu indah untuk dilupakan dan ditinggalkan.. Gak heran kalau banyak orang bermimpi ingin mengunjungi kota ini...

Jadwal perjalanan hari pertama saya adalah mengelilingi kota Seoul. Saya lengunjungi beberapa landmark terkenal dari kota ini. Perjalanan dimulai dari pukul 10 pagi (disana rata-rata pertokoan buka jam 10 pagi). Jam 10 pagi jalanan di Seoul sudah cukup ramai tapi tetap tertib. Oh ya, jalan raya di sini kebalikan dengan jalan raya di Indonesia, mungkin karena itu semua mobil di sini setirnya ada di sebelah kiri.
Hari pertama ini kami disuguhkan suhu yang cukup dingin di pagi hari, 8 derajat celcius. Menurut hasil pantauan saya dari situs prakiraan cuaca, hari itu akan cerah di pagi hari dan mendung di siang hari dengan kisaran suhu membentuk piramida, yaitu dingin di pagi hari, siang hari mulai naik dan turun lagi di malam hari. Suhu paling rendah adalah 7 derajat dan suhu paling tinggi adalah 14 derajat. Walau ada mataharinya, Seoul tetap terasa dingin lho..apalagi pada saat angin berhembus,brbrbrbrbrr dingiiin sekaliii.. (berhubung masih hari pertama jadi sedikit lebay, sok ikut-ikutan orang setempat pantau cuaca dan suhu sebelum keluar rumah, biar gak saltum..sayangnya ini cuma berlangsung di hari pertama saja..wkwkkwkw :P). 
Tapi prakiraan cuaca di sana memang akurat banget, kalau di perkirakan hujan ya beneran hujan, diperkirakan suhu berkisar 5 derajat ya beneran 5 derajat..gak kayak di tempat kita, terlalu banyak pawang hujan jadinya prakiraan cuaca jadi gak akurat.
Berikut ulasan mengenai tempat-tempat yang saya kunjungi pada hari pertama:

The Blue House (Cheong Wa Dae).
Sayang sekali The Blue House cuma bisa difoto dari jarak jauh seperti ini, kalau bisa masuk ke dalamnya pasti lebih menarik. Yang pake baju hitam di seberang jalan itu petugas keamanan yang jaga di setiap sudut kawasan The Blue House.

Letaknya tidak terlalu jauh dari backpacker Mr Sea, sepertinya hanya 20 menit perjalanan untuk sampai kesana. 
Phoenix Fountain
The Blue House atau bahasa Korea-nya Cheong Wa Dae adalah White House versi Korea, jadi ini adalah tempat tinggal resmi Presiden Korea. Disebut the Blue House karena atap bangunannya berwarna biru. Karena alasan keamanan, turis hanya diijinkan untuk melihat Blue House dari seberang jalan, tepatnya di depan pintu masuk Gyeongbok Palace (menurut saya sih ini pintu belakangnya Gyeongbok Palace, karena pintu depannya yang menghadap langsung ke Gwanghwamun Square). Seperti halnya tempat tinggal kepala negara pada umumnya, di setiap sudut jalan Blue House ini dijaga oleh petugas keamanan berpakaian jas hitam ala MIB atau tim IRIS di drama IRIS lengkap dengan headset ala intelnya.
sepanjang jalan menuju Blue House
Bahkan pos polantasnya saja beratap biru :D

Yang unik disini itu adalah ditengah-tengah jalan antara air mancur Phoenix di areal depan Blue House dengan jalan masuk ke Blue House ada pos polisi lalu lintas (saya lebih suka menyebutnya begitu, soalnya petugas yang didalamnya sibuk mengarahkan pentungan di jalannya seperti layaknya polantas..hehehe ;D) kecil di tengah jalan, yang saking kecilnya lebih mirip pos telepon umum tapi tanpa kaca yang hanya muat untuk satu orang. Sebenarnya pemandangan di kawasan Blue House ini sendiri sudah sangat indah, apalagi pas musim gugur begini, semua pohn daun-daunnya sudah menguning bahkan ada yang sudah berwarna merah. Tentu saja saya dan teman-teman tidak melewatkan kesempatan untuk berpose di bawah daun-daun maple yang berwarna kuning dan kemerahan ini.
 

Sunday, December 4, 2011

Seoul - I am coming... - Eps 1


Persiapan 6 bulan lamanya dan semua itu terbayarkan setelah melihat keindahan, kecanggihan, dan keunikan negara ini. Korea Selatan, negara yang selama ini cuma bisa saya lihat di televisi ketika menonton K-drama, sekarang saya bisa berjalan-jalan disana..serasa masuk menjadi salah satu karakter di k-drama...


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, tanggal 15 Nov 2011. Walau sempat sakit dua hari sebelumnya, saya tetap semangat, walau sebagai konsekuensinya saya harus bawa-bawa obat dokter kemanapun saya pergi selama disana, dan obatnya ini cukup merepotkan karena ada yang berupa sirup.
Tanggal 15 Nov 2011 pukul 3.30 pagi berbekal koper biru kesayangan saya yang saat itu isinya sudah penuh sebelum waktunya akibat baju tebal-tebal yang saya bawa, saya berangkat ke bandara internasional Juanda Surabaya. Sampai di sana, saya langsung masuk ke counter check in, dan melakukan self check in via kios check in Air Asia. Oh ya, saya ke Seoul dengan penerbang`n fly thru Air Asia via Kuala Lumpur. Ini adalah pertama kalinya saya naik AA dengan membawa bagasi. Sebelumnya selalu dengan paket hemat yang hanya dengan koper cabin. Karena itu, saya datang lebih awal, supaya tidak perlu antri pada saat drop off bagasi.

Seperti biasa Air Asia yang berangkat paling pagi memang selalu tepat waktu, jam 04.55 seluruh penumpang AA jurusan KL sudah diminta untuk boarding dan tepat jam 05.30 pesawat take off. Total waktu penerbangan SUB-KL-INCHEON adalah 8 jam. Tapi dengan selang waktu transit kurang lebih 2 jam selama di LCCT-KL. Keuntungan membeli tiket fly thru adalah kita tidak perlu melewati imigrasi, ambil bagasi dan check in ulang. Kita cukup masuk lapor ke petugas di terminal transit dan menunggu di terminal ini yang memang hanya diperuntukkan bagi penumpang Air Asia. Bagasi akan otomatis di pindahkan ke pesawat yang akan membawa kita ke rute akhir.

Penerbangan pertama ke KL ditempuh dalam waktu 2 jam dan saya sampai di KL jam 8.30 waktu KL. Fly thru ini ternyata ada tidak enaknya juga, karena harus menunggu di terminal transit LCCT yang pilihan tempat makannya benar-benar terbatas, beda dengan public area LCCT di terminal keberangkatan dan kedatangan. Pilihan makanan yang ada kebanyakan snack seperti kue-kue,dunkin donat, pastry, dan sejauh mata memandang hanya ada 1 tempat yang menjual makanan berat khas Malaysia. Untungnya harganya masih masuk akal dan terjangkau, tidak seperti di bandara di tempat kita.

Air Asia X yg mengantar saya ke Seoul
Penerbangan kedua yang akan mengantar saya dan teman-teman ke Incheon International Airport, Korea Selatan berangkat pada pukul 14.20 menggunakan Air Asia X. Penerbangan ini memakan waktu kurang lebih 6 jam , jadi kami akan tiba di Incheon pukul 21.45 (waktu Seoul - ada perbedaan waktu 2 jam dengan WIB, dan 1 jam dengan KL).

walau capek dan kedinginan tetap pose
Berhubung ini adalah pertama kalinya naik pesawat airbus yang berbadan besar (dengan 3 baris kursi dan 3 ruang kompartemen terpisah) jadi udiknya pada keluar, dan akhirnya foto-foto deh di pesawat..hehehe..
Dari naik pesawat, suasana Korea sudah terasa karena penumpang Air Asia X banyak orang Korea-nya, begitu juga pramugarinya. Lagu yang dipasang pada saat menunggu waktu take off juga lagu Korea, jadi semakin tidak sabar pengen liat Korea.

Enam jam perjalanan ini berlalu dengan lambat karena saya benar-benar kedinginan selama di pesawat ini padahal sudah memakai jaket tebal dan selimut. Entah karena terlalu excited, atau karena memang kedinginan saya tidak bisa tidur selama itu, dan bacaan yang saya bawa pun tidak selesai dibaca karena penumpang sebelah saya benar-benar mengganggu konsentrasi. Yang duduk di sebelah saya ini cewek Korea dengan pacarnya bule yang nonton dvd sepanjang perjalanan lewat laptopnya. Gimana mau konsentrasi baca, kalau yang disebelah ini sebentar-sebentar ketawa, padahal kalau saya intip yang ditonton itu film India..haisss..gak nyangka bule seleranya film india.,

Ya, 6 jam berlalu dan akhirnya saya dan teman-teman tiba di Incheon. Begitu keluar dari pesawat dan memasuki jembatan/ belalai penghubung ke terminal penumpang, suhu dingin sudah mulai terasa, padahal saya sudah pakai kostum versi lemper (4 lapis: kaos lengan pendek + kaos lengan panjang + Jaket tebal + overcoat + syal). Apa yang kami takutkan di pesawat memang terbukti, ternyata suhu di darat benar-benar sedingin yang diumumkan di pesawat yaitu 8 derajat celcius (suhu ac udah kalah ini). Memasuki area terminal suhu mulai normal bahkan bisa dibilang kami kepanasan, karena heater sudah terasa, memang dasar turis udik, gak pernah ngerasain dingin, giliran dingin aja teriak-teriak, giliran dikasih heater, eh teriak lagi... ;D Padahal salah sendiri datang pas musim gugur.. ya suhunya seputaran itu...

Incheon benar-benar luas, lebih luas dari Changi menurut saya (tapi belakangan, saya masih prefer changi karena petunjuk di Changi lebih ramah foreigner ketimbang di Incheon, saya dan teman-teman sempat bingung cari tempat makan waktu menunggu pesawat untuk kembali ke Indonesia). Untuk menuju ke imigrasi dari terminal penumpang tempat pesawat kami mendarat, kami harus menaiki train (sama dengan skytrain di changi).
Sambil menunggu train tetap harus eksis

Siap menghadapi dinginnya Seoul dengan kostum lemper :D

Sunday, August 28, 2011

Sayang untuk dilupakan...2009 - 2010

Seperti judul halaman ini, ada banyak hal yang terlalu sayang kalau dilupakan dari 5 perjalanan saya ke Bali dari tahun 2009 - 2010:

1. Tahun 2009 (4D3N), pertama kali saya ke Bali dan pertama kalinya saya solo travelling (walau cuma 2 hari sih...2 harinya lagi udah ditemanin teman yang asal Bali, thanks ya Dian atas bantuannya selama disana, thanks udah boleh nginap di rumahmu dan menyediakan waktu saat liburan untuk menemani saya jalan-jalan ...).

2. Pertama kalinya naik pesawat yang ada double seatnya, kagum bener dah sama airlines yang satu itu, padahal harganya mahal loh (pas lebaran soalnya)..untungnya saya tidak jadi korban double seat, walau stiker airport tax yang ada di boarding pass saya bukan atas nama saya ( di Juanda airport taxnya pake stiker print-print-an, biasanya mencantumkan nama lengkap penumpang).

3. Masih seputar pesawat, di bulan Agustus 2010, percaya atau tidak saya sampai ke Bali dengan menumpang pesawat dengan hanya membayar sebesar 70 ribu Rupiah :D inh adalah tiket termurah yang pernah saya dapatkan dalam sejarah saya naik pesawat. Sampai-sampai saya belain datang 2 ,5 jam sebelum keberangkatan karena takut seat saya terjual ataupun diminta tambahan biaya dengan berbagai alasan (dulu pernah dapat pengalaman begini soalnya). Tapi ternyata airlines yang satu ini memang yahud, sudah on time, dapat tempat duduk di depan, dan dapat free bagasi 20 kg pula. Thanks to Mandala Airlines for your amazing fare !!! (jangan-jangan gara-gara ini Mandala berhenti beroperasi sekarang...)

4. Masih soal pesawat lagi, kalau yang ini pengalaman buruk. Berawal dari pembelian tiket yang memang terlalu mepet dengan keberangkatan. Waktu itu karena rencana keberangkatan dadakan (H-2), akhirnya mau tidak mau saya membeli tiket Lion Air seharga 800ribu pp untuk rute SUB-DPS-SUB (dioperasikan oleh Wings Air). Pada waktu beli tiket sih, saya dan teman seperjalanan saya sama sekali tidak menyangka kalau Wings Air yang menerbangkan kami itu bukan pesawat pada umumnya. Kami sendiri shock waktu diantar oleh bus shuttle dari terminal keberangkatan Juanda ke hanggar pesawat yang letaknya jauh banget, ternyata oh ternyata, pantas saja parkirannya jauh, pesawatnya pesawat mini rupanya. Ya inilah untuk pertama kalinya saya naik pesawat baling-baling, dengan kapasitas sepertinya hanya 100 orang, pintu masuk pesawat cuma ada 1 dibagian belakang pesawat (teman saya punya pengalaman menarik disini, dia waktu itu request tempat duduk yang tidak disayap, tapi karena pesawatnya kecil, wkwkkw..view yang didapatkan teman saya memang bukan sayap pesawat tapi teman seperguruannya si baling-baling... :D (saya lebih senang menyebutnya baling-baling bambu)). Baling-baling bambu ini beneran berbeda dengan pesawat pada umumnya. Kalau normalnya perjalanan SUB_DPS hanya memakan waktu 35-40 menit, si baling-baling bambu ini bisa memakan waktu 45-50 menit bahkan di schedule penerbangan ditulis 60 menit..ckckck..  Karena saya pernah dapat tiket dengan harga 75ribu pp ke Bali dengan pesawat berukuran normal, terang saja saya benar-benar sebal dengan pesawat ini yang tiketnya seharga 800rb tapi fasilitasnya benar-benar tidak memuaskan. Sudah waktu naik bus shuttle serasa naik bus kota karena pintu slidingnya tidak bisa ditutup dan penumpangnya diisi sepenuh-penuhnya, begitu naik ke pesawat ternyata koper teman saya dinyatakan terlalu besar untuk kabin pesawat ini, padahal itu koper ukuran kabin lho, dan backpack trolley saya juga hampir saja tidak bisa dibawa ke cabin pada penerbangan DPS-SUB padahal waktu SUB-DPS cukup-cukup saja (akhirnya boleh juga setelah saya ngotot dengan pramugarinya yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan, secara saya kan bawa backpack trolley yang jelas-jelas saya sudah tau ukurannya pasti cukup dengan cabin pesawat itu). Hal menyebalkan lainnya adalah pesawat ini punya pewangi ruangan yang luar biasa wangi dan tidak dijual dipasaran..wkwkwk..aroma ' Ikan Asin', saya sampai bingung ini pesawat apa pasar ikan ya, apa karena penerbangannya ke tempat yang banyak pantainya jadinya aroma di pesawatnya juga disesuaikan, ini saya alami waktu berangkat sama pulang, jadi kesimpulannya memang ada yang tidak beres dengan pesawat ini.

5.Water sport - tanjung Benoa dan Sea Walker - Sanur (ulasan lengkapnya baca di posting saya tentang must try and see in Bali), yang pasti menyenangkan dan bikin ketagihan...

6. Air soft gun di Singosari bersama rekan kerja di HMS Rungkut dan Berbek..menyenangkan sekali..sayang ada beberapa rekan yang tidak sportif sepanjang permainan..membuat permainan tidak berjalan fair.

7. Rafting bersama rekan kantor di Songa, Probolinggo. Ini adalah pengalaman rafting kedua saya. Sebelumnya saya sudah pernah rafting bersama teman-teman UKM Himpas jaman kuliah dulu.

First Time and Unforgettable, Amazing Race Singapore...







Sebuah perjalanan yang ditunggu-tunggu selama setahun akhirnya berhasil terlaksana..Yes, I can do it..I can go abroad..

Perjalanan saya untuk pertama kalinya menuju Singapore benar-benar menjadi perjalanan ke luar negeri pertama dan saya yakin tidak akan terlupakan seumur hidup saya. Bagaimana tidak, saya baru bisa menginjakan kaki di negara singa itu setelah 12 jam perjalanan lebih dan melewati 2 negara, ditambah dengan begadang semalaman.




Singapura adalah negara yang saya pilih sebagai negara pertama yang akan saya kunjungi selain Indonesia. Kenapa saya pilih Singapura? Alasan pertama karena saya dari kecil sering mendengar cerita tentang pengalaman teman-teman saya ketika mengunjungi negara ini, katanya Singapura itu bagus, bersih dan tertib. Dari situ saya jadi menetapkan kalau suatu hari nanti, saat saya sudah bisa cari duit sendiri , saya mau ke sana. Keinginan saya semakin menggebu-gebu ketika saya membaca buku ‘500 ribu keliling Singapura’-nya mbak Claudia Kaunang. Oleh karena itu, ketika paspor sudah ditangan, saya mulai gemar memantau promo tiket murah Jet star (karena ini satu-satunya budget airlines yang ada rute Surabaya-Singapore nya). Pada bulan Juni 2010 akhirnya penantian saya terjawab, Jet Star memberikan promo untuk periode terbang 2011, dengan harga SUB-SIN pp IDR 800.000 kalau dikurskan ke Rupiah. Langsung saja saya dengan 9 orang teman saya lainnya membeli tiket ini untuk keberangkatan Feb 2011 (1 minggu setelah imlek). Beruntung sebulan kemudian, ada promo accor hotels untuk hotel di Singapura dengan harga yang cukup murah, saya mendapatkan 3d2n di Ibis Bencoolen dengan total harga 1,2 juta untuk kamar double (kami sharing bertiga :D) . Tergolong murah untuk hotel sekelas Ibis dan ber lokasi strategis.

Setelah menunggu setengah tahun  lamanya, akhirnya saat yang dinantikan tiba, saya akan berangkat ke luar negeri untuk pertama kalinya. Koper dan perlengkapan lain sudah siap, tinggal berangkat ke bandara. Dalam perjalanan saya ke bandara, saya dapat sms dari Jet Star kalau penerbangan saya di cancel karena masalah teknis. Terang saja saya dan teman-teman jadi heboh, secara informasinya 2,5 jam dari jadwal keberangkatan. Untuk itu, kami memutuskan untuk tetap ke bandara mencari tau permasalahan yang sebenarnya, ternyata penerbangan saya di cancel karena saat itu gunung Bromo baru saja aktif dan mengeluarkan kepulan asap, dua maskapai lain Silk Air dan China Airlines juga batal terbang saat itu. Sempat kesel saya gara-gara masalah ini, karena sebenarnya kepulan asap Bromo itu seharusnya tidak mengganggu penerbangan kami, secara  arah ke Singapura seharusnya tidak melewati Bromo, entah kenapa Jet Star tetap batal terbang. Berhubung saya sudah booking hotel dimuka, tiket USS juga sudah ditangan, tidak mungkin saya membatalkan perjalanan ini.  

Akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk berangkat ke Singapura hari itu juga via Kuala Lumpur dengan rute SUB-KUL berangkat jam 6 sore dengan AA dan berikutnya menyambung dengan kerete api ke Singapore jam 23.00. Kami terpaksa go show untuk tiket AA dan harganya memang cukup tinggi, tapi demi liburan yang sudah kami rencanakan lama, kami mau tidak mau harus mengambil langkah ini, karena pihak Jet Star sendiri tidak menjamin kalau penerbangan hari berikutnya tetap terbang atau tidak. Pembelian tiket AA go show ini ternyata cukup merepotkan ribet juga, karena counter AA di bandara Juanda hanya menerima cash, ya ampun saat itu mau tidak kami harus mengumpulkan uang cash kami dan hasilnya salah satu teman kami yang bertindak sebagai pemesan tiket sudah seperti kernet bus saja menghitung duit segepok, gimana tidak harga tiket  1jtan dan kami bersepuluh, dengan demikian duit yang dibawa sebanyak 10jtan tunai dan 10 buah paspor (kalau ini sudah seperti makelar TKI :D).

@ McD KLSentral - saksi bisu terdamparnya kami di KL
Tepat jam 6 sore, pesawat kami ke KL take off dan landing tepat waktu pada pukul  9 malam waktu KL. Menurut perhitungan kami, kalau kami bisa tiba di KL Sentral pada pukul 10, kami bisa mengejar train jam 11. Untuk itu sesampainya  kami di LCCT, kami langsung mengejar shuttle bus ke KL Sentral.  Beruntung saat itu ada bus yang akan segera berangkat ke KL Sentral dan kami pun segera membeli tiketnya dan langsung berangkat. Sesampainya kami di KL Sentral, kami langsung berlari ke bagian informasi untuk menanyakan  dimana loket untuk train ke Singapura, akan tetapi menurut petugas sepertinya kami tidak akan mendapatkan tiket kalau kami baru akan membeli saat ini dan benar saja setelah berlari – lari ke lantai 2 KL Sentral sambil menenteng koper yang untungnya hanya ukuran cabin, ternyata loket penjualan tiket untuk train memang sudah tutup padahal saat itu baru pukul 10.30 dan kami mendengar informasi kalau train tujuan Singapura akan berangkat pukul 23.30. Kami tidak menyerah sampai disitu. Kami pun kembali ke pusat informasi dan bertanya pada petugas, apakah ada cara lain yang tercepat dan paling mungkin untuk kami untuk menuju ke Singapura, katanya sepertinya sudah tidak memungkinkan kalau untuk malam itu, karena dengan bus saja kami tidak akan bisa mengejarnya, karena bus paling malam akan berangkat jam 12 dan jarak terminalnya cukup jauh dari KLSentral (pada saat itu terminal Puduraya sedang renovasi sehingga tidak ada terminal bus yang dekat dengan KLSentral). Terang saja kami semua jadi shock melihat keadaan ini. Dari 10 orang yang berangkat, 6 diantara kami ada first timer ke luar negeri, untuk itu kami benar-benar bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu di McDonalds KLSentral, dan sambil makan kami berunding untuk menentukan cara lainnya. Setelah berunding lama, akhirnya 9 dari kami memutuskan untuk ke Singapura dengan pesawat paling pagi, yang saat itu yang paling memungkinkan untuk dibooking last minute adalah AA. Teman kami yang 1nya memilih berangkat dengan train, dengan alasan biaya tiket pesawat last minute pasti lebih mahal. Memang benar apa katanya, harganya cukup mahal, total harga pesawat go show kami kurang lebih 1,7 juta, dari yang semula hanya 800ribu PP dengan Jet Star, jadi melunjak menjadi 1,7 juta + 400ribu (pesawat pulang Jet Star, pesawat yang berangkat akan di refund penuh oleh pihak Jet Star). Tidak sampai disitu saja perjuangan kami, karena ada perjuangan berikutnya untuk membeli tiket AA yang saat itu semua counter di KLSentral sudah tutup, free desktop dengan coin juga tidak beroperasi. Untung saja beberapa dari kami memakai smartphone dan wifi di McD cukup lancar. Jadi kami pun saling memesankan tiket deng`n menggunakan AAmobile sambil berlomba dengan waktu, karena AA hanya bisa dipesan via mobile dan internet paling lambat 4 jam sebelum penerbangan dan saat itu sudah pukul 1 pagi dan penerbangan yang akan kami naiki adalah pukul 6.15. Karena jumlah orang yang cukup banyak akhirnya hanya beberapa dari kami yang berhasil di pesankan tiket via mobile dan sisanya tidak berhasil. Hal ini membuat kami semakin deg-degan. Dengan ini berarti kami punya PR berikutnya, kami harus berangkat ke LCCT dengan shuttle terpagi dengan harapan dapat membeli tiket AA di counter AA LCCT. Shuttle bus paling pagi adalah pukul 3 dan setelah menunggu 2 jam di McD, kami pun segera bergegas turun kembali ke terminal bawah LCCT untuk menaiki shuttle bus. 



akhirnya sampai juga..Changi Airport Singapore


Sesampainya kami di LCCT yang berarti sudah pukul 4, 2 jam sebelum keberangkat pesawat pertama AA, kami langsung menuju ke counter AA, dan sekali lagi kami dibuat shock kembali. Counter AA LCCT masih tutup dan setelah bertanya ke petugas AA di counter check in, kami mendapat info kalau counter baru dibuka pukul 5. Ya ampun, banyak sekali rintangan yang kami dapatkan untuk mencapai ke Singapura,  benar-benar petualangan yang tak terlupakan. Karena takut kehabisan tiket, kami pun menunggu tepat di depan counter dan begitu dibuka, saya langsung baris dibarisan depan, dan ternyata banyak sekali orang yang mau go show untuk tiket AA, yang akhirnya membuat saya berada di baris ke 3 dan setelah menunggu petugas menginput data kami satu per satu, tiket baru kami dapatkan pada pukul 5.30 yang berarti kami harus segera cek in karena check in akan di closed 45 menit sebelum keberangkatan. Setelah semua dari kami mendapatkan boarding pass kami dari kiosk check in AA, kami langsung berlari ke boarding gate, setelah sebelumnya harus melewati imigrasi, baggage screening, dll. Pokoknya kami semua selalu berlari dari satu tempat ke yang lainnya sampai akhirnya kami berhasil sampai di boarding gate dan langsung memasuki pesawat. 

Lega rasanya akhirnya kami bisa sampai di pesawat yang akan memberangkatkan kami ke Singapura setelah semua yang kami alami sejak kemarin. Di pesawat kami semua langsung tertidur pulas, karena semalam tidak ada yang bisa tidur karena bingung memikirkan cara untuk menuju Singapura. Satu jam kemudian kami pun sampai di Changi International Airport, Singapura. Thanks God, akhirnya saya bisa tiba di negara Singa ini. Betapa susahnya untuk mencapai negara ini, sampai harus melewati negara lain dan terdampar di KL Sentral. Benar-benar seperti Amazing Race pengalaman kami ini, bahkan kalau boleh diberi judul mungkin bisa menjari Tere’s and friends: go to the Singapore :D. 

Mango Sago - yummy
Sampai di Singapura, kami tidak membuang waktu, kami langsung check in di hotel, menitipkan bagasi dan langsung mengambil rute Orchard road.  Rencana awal kami di Singapura adalah selama 4D3N, tapi sekarang menjadi 3D2N. Saat ini paling enak wisata kuliner dan cuci mata di Orchard road. Kami sudah melewatkan banyak tempat yang menurut itinerary yang telah kami susun pada hari pertama, bahkan kami juga sudah melewatkan Chingay parade. Untuk itu hari ini akan kami pergunakan sebaik-baiknya. Hari ini rute kami adalah Orchard Road dan Anchor point. Di Orchards tak lupa kami mencoba mango Sago dan Baikut the  yang terkenal enak itu. Setelah puas berjalan-jalan di Orchard, kami menuju ke Ancor Point, untuk mengunjungi Charles n Keith FO (maklum brand ini salah satu brand favorit di Surabaya, jadi tidak akan kami lewatkan begitu saja FOnya.). Setelah dari sana kami langsung balik hotel untuk istirahat karena paginya kami akan ke USS.



Pose di depan bola dunia nya USS - benernya gak perlu beli tiket USS untuk foto disini, krn letaknya di luar gate USS
 
Rute saya di hari kedua adalah Universal Studio Singapore, untung saja saya tidak menempatkan USS di itinerary hari pertama, kalau tidak bisa gempor beneran saya setelah begadang semalaman dan paginya langsung bermain-main di USS seharian lamanya. Berhubung ini adalah pertama kalinya saya ke theme park sekelas USS, saya senang sekali dan tidak mau pulang. Saya mencoba semua permainan yang ada, foto-foto dengan character, dan di setiap sudut USS sampai tak terasa sudah pukul 6 sore. Benar-benar tak kenal lelah dan tidak ingat waktu kalau disana. Menurut saya tempat ini worth it dengan harga tiket yang kalau di rupiahkan sekitar 450ribuan. Malamnya saya menuju ke Marina Bay Barrage dan Marina bay sands Sky park. Panorama di Marina barrage ini memang keren banget persis seperti yang digambarkan mbak Claudia di bukunya. 
gk dpt Merlion fullerton, yg di RWS pun jadi :D
the year of rabbit 2011

slh satu to do list di USS: berfoto dengan karakter ;D

Fullerton Hotel dan Singapore river dari Marina bay sands skypark
Keesokan harinya, karena pesawat kami adalah pesawat siang, mau tidak mau kami harus bergegas check out dan saya masih menyempatkan diri ke Mustafa untuk belanja oleh-oleh, walau alokasi waktunya hanya 1 jam. Berat rasanya mengakhiri liburan saya di Singapura karena negara ini walau kecil tapi sangat luar biasa, luar biasa tertib, bersih, dan canggih. Saya kagum sekali dengan kedisplinan warganya yang berbuah pada kebersihan kota. Terutam MRTnya, bersih sekali, beberapa bulan kemudian saya mengunjungi KL kembali dan mendapatkan kalau LRT disana tidaklah sebersih di Singapura. Saya bertekad untuk mengunjungi Singapura lagi di lain waktu, dan kali ini saya harus foto di Merlion dan Esplanade. Pada keberangkatan saya kali ini, saya tidak ke Merlion karena katanya sedang di renovasi untuk pameran seni biennale kalau saya tidak salah ingat.  Yang sayangnya pada perjalanan kedua saya (bulan Mei 2011) tetap saja si Merlion tidak bisa saya foto karena pada saat itu sedang tahap pembongkaran festival Biennale.

Ya begitulah, cerita saya tentang pengalaman saya ‘ First time and unforgettable: Amazing race Singapore.’ Sampai sekarang kalau saya mengingat kejadian ini, saya pasti terbayang betapa nekadnya kami saat itu. Walau perjalanan saya ini akhirnya tidak lagi menjadi budget traveling seperti di buku Mbak CK karena tiket yang mahal, tetapi bagi saya ini tetap menjadi perjalanan yang tak terlupakan dan paling berkesan dalam hidup saya.