Tuesday, November 27, 2012

the Heart of Asia - Day 3 - Lost in Information

'Lost in information' itulah kalimat yang tepat untuk mengungkapkan pengalaman saya di hari ketiga saya di Taipei. Kalau di Holywood sana ada film yang judulnya 'Lost in Translation', kalau boleh saya mau memproklamirkan versi lainnya yang hampir serupa ^^

Cuaca di hari ketiga ini cukup panas, berbeda dengan hari pertama yang dingin karena angin yang bertiup lebih kencang. Bahkan di Yehliu matahari sangat terik layaknya pesisir pantai pada umumnya, saya sampai senewen sendiri karena harus terus menerus menenteng jaket sepanjang perjalanan, tau begitu sejak awal tidak perlu bawa jaket. 

Taipei West Bus Station.

Hari ketiga ini, saya akan mengeksplor ke sisi luar Taipei, tepatnya saya akan mengunjungi Yehliu Geopark yang dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam dari Taipei dengan express bus. 
Demi mendapatkan waktu yang cukup banyak untuk mengeksplor Yehliu yang informasinya memerlukan waktu sekitar 2 jam, pukul 8 pagi saya sudah berangkat menuju ke Taipei bus station yang letaknya di sebelah Taipei Main Station. Dengan mengikuti petunjuk yang ada dari pintu masuk Y9, dalam waktu hampir 30 menit saya berhasil menemukan Taipei Bus Station. Kenapa 30 menit ? Karena lokasi Taipei main station itu sangat luas dan petunjuk arah ke Taipei Bus Station tidak selalu ada di setiap papan petunjuk, jadinya seringkali saya salah jalan dan harus memutar balik. Ditambah lagi dengan eskalator yang belum beroperasi sehingga berkali-kali saya harus naik turun tangga (saking banyaknya saya tidak hitung lagi berapa kali saya naik tangga maupun eskalator - dalam kondisi off). Setelah menemukan Taipei Bus Station, saya langsung menuju ke loket bus Kuo Kuang, dan ketika menanyakan rute Yehliu, petugas loket memberitahu kalau untuk rute Yehliu bukan di situ. Kami harus pergi ke west station. Lebih lengkapnya seperti ini:

Monday, November 26, 2012

Trip to the Heart of Asia : Day 1 & 2

Taken from http://eng.taiwan.net.tw/

The Heart of Asia, begitulah slogan yang digunakan oleh Taiwan tourism board untuk mempromosikan negaranya. Sebelumnya tidak pernah terlintas sedikit pun di benak saya untuk traveling ke Taiwan. Jadi, sejak awal saya memang tidak punya ekspektasi apapun terhadap negara ini.


Trip saya ke Taiwan berlangsung 6D4N, 2 hari sisanya dihabiskan untuk perjalanan karena saya menggunakan penerbangan malam pada waktu keberangkatan dan penerbangan pagi pada waktu pulang. Empat hari bisa dikatakan adalah waktu yang sempit untuk mengunjungi seluruh Taiwan. Tapi saya berusaha untuk mengemasnya dengan lebih padat dan memilih lokasi yang sesuai dengan kegemaran saya dan teman traveling saya. Seperti biasa perjalanan saya kali ini kembali dipandu oleh buku Mbak CK dan perjalanan ini ber-budget yang tidak jauh berbeda dengan yang tertulis di buku. Berikut itinerary saya selama di Taiwan:
Day 1: Flight malam CGK-TPE.
Day 2: Taoyuan Airport - Taipei city tour (Chiang Kai Sek Memorial Hall, Xinyi District, Taipei 101, Sun Yat Sen Memorial Hall,Long Shan Temple, Ximending).
Day 3: Yehliu Geopark, Martyr Shrine, Shilin Night Market.
Day 4: Kaohsiung city (Formosa Boulevard, Fo Guang Shan Monastery, Dragon & Tiger Pagoda, Lotus Lake, Love River, Dream Mall).
Day 5: Taipei zoo, Wufenpu fashion wholesaler, Ximending, Taoyuan Airport.
Day 6: Flight pagi TPE-CGK.

Perjalanan kali ini bisa dikatakan perjalanan yang paling menantang dibandingkan perjalanan saya sebelumnya, karena banyak sekali perjuangan yang dilakukan untuk memenuhi setiap itinerary. Bahkan ada beberapa tempat dari itinerary semula yang dengan terpaksa tidak dapat dikunjungi. Pokoknya pengalaman kali ini benar-benar luar biasa. Bisa dibilang saya dan rekan seperjalanan saya cukup nekad untuk mengunjungi negara ini dengan bermodal bahasa Inggris yang tidak bisa dikatakan lancar banget dan bahasa mandarin saya yang juga pas - pasan. Jujur, kalau boleh saya bilang, lancar bahasa Inggris tidak menjamin bisa eksis di Taiwan, kenapa? karena sedikit sekali penduduk setempat yang mampu dan mengerti bahasa Inggris, bahkan petugas di visitor Information Center pun bahasa Inggrisnya tidak lebih baik dari saya ^^. Selama 4 hari saya di sana, penduduk setempat yang menurut saya bahasa Inggris nya sangat lancar adalah staff hostel dan barista Starbucks. Untunglah sebagian besar petunjuk di tempat umum sudah dilengkapi dengan tulisan roman (bukan cuma tulisan mandarin) sehingga memudahkan kita yang buta huruf mandarin ini untuk mencari arah, walau beberapa petunjuk seringkali cukup menyesatkan karena tidak jelas arahnya.

Monday, November 5, 2012

Can't hardly wait ...day-10

Kurang dari 1 minggu dari hari ini saya akan melakukan perjalanan kembali ke negara baru. Negara yang pada awalnya tidak sama sekali terlintas dalam pikiran saya sebagai salah satu tujuan petualangan saya. Selama ini yang ada dipikiran saya, saya ingin keliling Asia, ke negara-negara tujuan wisata terkenal seperti Singapura, Korea Selatan, RRC, Malaysia, Jepang. Tidak pernah sama sekali Taiwan ada dalam list saya. Tapi minggu depan, saya akan berkunjung ke sana. 

Kenapa tiba-tiba ingin mengunjungi Taiwan ? Berawal dari twit dari Mbak Claudia Kaunang awal tahun 2012 yang menceritakan tentang perjalanannya di Taiwan. Dari posting-posting beliau lah saya tau kalau Taiwan juga negara yang menarik untuk dikunjungi. Tapi itu berlalu begitu saja. Keinginan untuk mengunjungi Taiwan barulah muncul ketika teman saya, Irin, mengajak untuk traveling bareng ke Taiwan. Pada awalnya saya hanya anggap sepintas lalu dan selalu saya jawab, nanti ya kalau ada tiket murah karena saya kurang tertarik dengan rute itu. Saya lebih tertarik ke Jepang atau Hongkong. Siapa sangka sebulan kemudian Garuda Indonesia membuka rute baru ke CGK-TPE dan memberikan penawaran best deal dengan harga yang cukup menggiurkan USD 260 pp setara dengan harga yang dipasang untuk rute CGK-HKG. Dengan adanya promo seperti ini, Irin semakin semangat saja membujuk saya untuk pergi bareng ke Taiwan. Yang akhirnya dia sukses besar, saya akhirnya tertarik untuk mengunjungi Taiwan. Penyebab utamanya adalah rute yang saya incar sudah tidak ada lagi yang diharga USD 260 sementara saya tidak mau melewatkan promo menggiurkan dari maskapai full board macam Garuda Indonesia ini dan memang saat itu saya sedang mencari tiket untuk perjalanan pada saat harpitnas di bulan November 2012. Kapan lagi coba naik full board dengan harga semurah itu. Wong budget airlines tetangga saja, untuk rute yang sama pada saat big sale harganya masih USD 150 pp belum termasuk bagasi, makanan dan inflight entertainment, belum lagi untuk bookingnya harus tengah malam dan bersabar menunggu giliran waiting list. Berhubung ada yang ngajak bareng, seat dengan harga promo masih available di tanggal yang saya inginkan dan ditambah saya baru membaca artikel di lonely planet 'Top 10 countries 2012' (http://www.lonelyplanet.com/europe/travel-thps-and-articles/76856) - Taiwan termasuk salah satu dari 10 negara tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk menjadikan Taiwan sebagai destinasi wisata utama saya di tahun 2012. Berbekal internet dan limit kartu kredit akhirnya saya dan teman saya berhasil membeli tiket GA CGK-TPE dengan harga terendah USD 286 (kurang lebih 2,6 juta Rp). 

Sunday, October 14, 2012

Another story from my Bali trip

Kali ini saya ke Bali bersama dengan keluarga. Sebuah perjalanan yang sudah lama direncanakan, dan akhirnya tiba waktunya untuk keberangkatan. Siapa sangka perjalanan yang seharusnya menyenangkan ini malah menjadi pelajaran tersendiri bagi saya dan cukup membuat saya sewot.

Berawal dari promo Airasia untuk rute baru Surabaya-Denpasar dengan harga 200ribu rupiah PP, dengan nekad saya akhirnya booking tiket untuk saya dan mama saya untuk tanggal keberangkatan yang masih setahun lagi. Waktu itu saya belinya di bulan Desember 2011 dan tanggal keberangkatannya di bulan Sept 2012. Awalnya hanya saya dan mama saya, tapi akhirnya bertambahlah peserta baru tante saya dan dua orang anaknya. Bagi saya ini adalah pertama kalinya saya traveling ke luar pulau bersama keluarga besar (karena lebih dari 1 keluarga, saya sebut keluarga besar) dan pertama kalinya saya arrange perjalanan untuk keluarga. Itinerary perjalanan sudah saya siapkan jauh-jauh hari dan saya juga sudah menanyakan ke semua peserta mengenai rencana perjalanan ini mau kemana dan mau ngapain saja. Saat itu, semua peserta sepakat bilang terserah saya. Saya mah tambah senang kalau semuanya terserah saya, karena dengan begitu saya lebih leluasa untuk mengatur jadwal perjalanan. Jadilah akhirnya saya membuat itinerary perjalan 4D3N saya di Bali menjadi day 1: Besakih-Tirta Empul-Krisna/Sukowati-Kecak Dance at GWK, day 2: Bedugul-Tanah Lot-Kuta, day 3: Uluwatu-Pantai Bingin -Pantai Tegal Wangi -Dreamland - Kuta, day 4: back to Sby.

Akhir dari penantian dan awal dari sebuah perjalanan

Sebulan yang lalu saya sempat menuangkan 'uneg-uneg' di pensieve ini mengenai kegalauan saya dalam proses apply visa. 
Akhirnya, minggu lalu masa penantian saya berakhir, akhirnya saya berhasil mendapatkan visa negara tersebut. Rasanya lega minta ampun, saya sampai tidak bisa menikmati perjalanan saya kali ini ke Jakarta karena deg-degan dengan hasil aplikasi visa saya. Padahal biasanya saya kalau ke Jakarta, hari pertama saja tumpukan belanjaan sudah banyak (shopaholic saya kambuh kalau lagi di kota metropolitan itu), tapi kali ini saya bisa keluar masuk mall tanpa membawa tentengan belanjaan sama sekali. 

Perjalanan saya kali ini ke Jakarta memang mengemban misi penting. Nasib seseorang (berdua kalau saya ikut diitung) bulan November nanti ada di tangan saya. Misi penting saya kali ini adalah mengajukan aplikasi visa salah satu negara yang akan saya dan teman saya kunjungi di bulan November 2012.  Ini perjalanan   yang dengan sabar dinanti dari bulan Feb 2012 (resiko nyarinya tiket murah melulu, jadinya harus sabar menunggu lama sampai tanggal yang tertera di tiket). Beli tiketnya sih tidak terlalu sulit, dengan bermodal internet super lancar dan kartu kredit berlimit lumayan serta kesabaran yang tinggi, dijamin tiket murah pasti ada di tangan. Yang sulit adalah pengajuan aplikasi visanya, sebenarnya gak sulit sih, yang benar bikin deg deg-an, gak tenang, takut ditolak visanya. Ini salah satu alasan kenapa saya lebih memilih untuk apply sendiri ketimbang melalui agent. Walau saya tau konsekuensinya akan ada biaya tambahan untuk  akomodasi dan tiket untuk ke Jakarta. 

Satu per satu persoalan muncul selama perjalanan saya dalam misi ini. Persoalan pertama dari teman saya di Jakarta yang tadinya mau saya tumpangi kamar kosnya selama saya di sana. Dua minggu sebelum keberangkatan saya dapat info kalau dia akan dinas ke luar kota. fiuhhh.. cukup mengagetkan, soalnya ini berarti saya harus menyediakan budget tambahan untuk hotel. Segera setelah mendapat info dari dia, saya langsung browsing agoda, dan hasilnya rata-rata sudah pada mahal harga hotel yang letaknya di tengah kota. Tapi saya tidak patah semangat, alternatif kedua saya googling promo kartu kredit, dan thanks God saya dapat sedikit pencerahan, pada saat itu ada promo pay 2 for 3 night dari salah satu kartu kredit, yang lebih menyenangkan lagi setelah ditelusuri lebih lanjut ke website grup hotel tersebut, promo ini tidak hanya berlaku khusus untuk pemegang kartu kredit terrebut, tapi berlaku juga untuk pembayaran dengan kartu apapun asalkan pemesanan dilakukan melalui website mereka. Karena waktu sudah mepet, saya langsung mulai memilih hotel yang letaknya paling strategis dengan lokasi-lokasi yang ingin saya tuju. Dengan ini persoalan tempat tinggal -DONE.